Berdiri di sini, tepat di bibir dermaga terminal perahu Desa Labuhan Bajau, Teupah Selatan, sambil menyaksikan ombak yang memecah di bebatuan, memberikan pikiran terasa lebih rileks.
Saya menyebutnya terminal, karena tempat ini terparkir perahu-perahu yang tersusun rapih, terkesan seakan melepaskan lelah setelah berjam-jam mengarungi lautan untuk mengais rejeki. Dengan susunan bebatuan sebagai tameng, memberikan kenyamanan bersandar. Ini sebuah struktur yang bagi saya terasa begitu alami. Mungkin daerah lain juga ada, namun pada umumnya dengan bendungan beton.
Angin laut yang berhembus pelan seolah membisikan cerita-cerita masa lalu, rasanya seperti sedang memutar kembali kaset lama yang sudah usang namun penuh kenangan. Memang bagi kebanyakan orang, tempat ini mungkin hanyalah sebuah destinasi wisata, titik koordinat di peta yang menawarkan keindahan visual.
Namun bagi saya, setiap jengkal tanah dan deburan ombak di sini adalah bagian dari identitas. Ini bukan sekadar tempat rekreasi, ini adalah kampung halaman, tempat akar keluarga yang tertanam kuat.
Daftar Isi
Kilas Balik di Masa Lalu
Sambil menatap perahu-perahu yang tertambat rapi, pikiran saya melayang ke masa-masa sebelum pemekaran Kabupaten Simeulue. Saya masih ingat betul betapa sulitnya akses jalan menuju ke sini. Dulu, perjalanan pulang ke kampung halaman ayah terasa seperti sebuah ekspedisi besar yang melelahkan. Jalanan yang rusak, akses transportasi yang terbatas, dan waktu tempuh yang seolah tak berujung. Kadang harus bertaruh dengan cuaca dan kondisi jalan yang bisah berubah menjadi kubangan lumpur saat hujan tiba. Pulang kampung saat itu bukan sekadar rindu, tapi juga perjuangan fisik yang luar biasa.
Namun sekarang, perubahan itu nyata dan begitu terasa. Sejak Simeulue berdiri sendiri sebagai kabupaten, transformasi infrastruktur di Teupah Selatan, khususnya akses jalan menuju Labuhan Bajau menunjukkan perubahan pesat. Sekarang, mengunjungi tempat ini semudah membalikkan telapak tangan. Hanya dalam hitungan menit, kendaraan sudah bisah menapakkan kaki di tanah Devayan, di kawasan Batubelayar yang selalu dibanggakan ini. Tidak ada lagi drama jalan berlubang atau kekhawatiran tertahan di tengah jalan. Kemudahan akses ini seperti membuka gerbang yang selama ini terkunci rapat bagi dunia luar.
Pesona Batubelayar Sekarang Ini
Sang kampung halaman kini telah bersolek. Pesona alamnya yang dulu tersembunyi kini menjadi magnet bagi siapa saja. Saya melihat begitu banyak spot wisata baru bermunculan di sepanjang pesisir. Ada kebanggaan tersendiri melihat bagaimana potensi desa ini mulai dikelola dengan serius. Spot-spot foto yang estetik, tempat bersantai yang nyaman, hingga kantin-kantin sederhana yang mulai tumbuh.
Secara keseluruhan, ini adalah kabar baik bagi perputaran ekonomi masyarakat lokal tentunya. Aset-aset milik warga kini menjadi berharga, bahkan anak-anak muda desa punya peluang untuk terlibat langsung dalam industri pariwisata di tanah mereka sendiri.
Menurut saya, dari sekian banyak perubahan itu, hanya satu hal yang tak pernah berubah yaitu kekayaan lautnya. Kawasan ini bukan hanya indah di permukaan, tapi juga menyimpan “harta karun” bagi para pemancing. Tidak sedikit orang dari desa lain, bahkan dari luar kecamatan, sengaja datang menggunakan perahu hanya untuk merasakan sensasi ‘strike’ ikan-ikan besar di perairan ini. Suara mesin perahu yang menderu di kejauhan seringkali menjadi pertanda bahwa ada petualang yang sedang beradu nasib dengan penghuni laut Devayan. Bagi mereka, ini adalah hobi, bagi saya, ini adalah bukti bahwa alam disini masih memberikan keberkahan yang melimpah.
Ikhtisar
Memandang pesona Batubelayar bukan sekadar destinasi wisata, melainkan kampung halaman yang penuh kenangan dan akar identitas keluarga. Transformasi ini menunjukkan perubahan yang sangat drastis. Bayangkan saja sebelumnya, dimana perjalanan pulang kampung adalah sebuah perjuangan fisik yang berat karena infrastruktur yang rusak. Sekarang, akses jalan sudah sangat mudah dan hanya memakan waktu hitungan menit.
Kemudian, peluang pertumbuhan Ekonomi bisah tercapai jika dimanfaatkan dengan baik. Memang sekarang ini terlihat banyak bermunculan spot wisata baru di pesisir pantai. Tidak lain ialah animo masyarakat menciptakan peluang dalam meningkatkan perekonomian yang perlu diacungi jempol.
Selain keindahan visual batu besar yang ikonik, wilayah ini tetap menjadi primadona bagi para pemancing dari berbagai desa karena potensi ikan besarnya yang melimpah.
Tentu saja harapan kedepannya adalah sebuah kemajuan pariwisata yang tetap berjalan selaras dengan kelestarian alam demi warisan bagi generasi mendatang.


