Realita

Era modernisasi membentuk karakter mental seseorang seperti mesin (robot). Kolaborasi manusia dengan teknologi melahirkan sebuah ketergantungan yang nyata. Dimana seluruh akses dilakukan dengan menggunakan teknologi modern. Baik dunia pendidikan, pemerintahan, bisnis, bahkan hampir semua aspek kehidupan yang tak luput dari teknologi yang terintegrasi, tentunya ini sebuah kemajuan dari sebuah peradaban.Sudah jarang bahkan tak pernah lagi terlihat permainan yang dilakukan anak-anak seperti masa sebelum era modernisasi sekarang ini. Diusia pertumbuhan anak batita saja sudah mengenali wujud dari sebuah gadget. Apalagi diusia pendididkan dasar, menengah dan atas.Satu sisi itu bagus, karena dapat mengenali perangkat-perangkat teknologi dunia digital sekarang dan akan datang, sehingga tidak menimbulkan minim pengetahuan dikemudian hari (gaptek).

Disisi lain, berdampak buruk jika tidak dilakukan pengawasan yang intens sejak dini. Salah kaprah teknologi menjadikan gadget sebagai senjata bermain bukan belajar. Kemudian dampak buruk lainnya, mempengaruhi dan merusak karakter sejak dini. Seperti membiarkan bermain game seharian. 1. Layar dan Ilusi Koneksi  Kita hidup di zaman yang paling terhubung dengan tekhnologi, menjadi sejarah manusia dalam berevolusi. Dimana sekali klik, kita dapat melihat segala wujud baik orang, benda, makhluk hidup, bahkan semua yang sesuai kita inginkan. Sekali sentuh, bisah langsung melihat, berbicara. Ternyata transformasi ini menjadikan kita semakin dekat dengan yang jauh. Mempermudahkan kita mengenali dunia, mengetahui persoalan rumah tangga orang, konflik siapa dengan siapa, bahkan bisah untuk berdagang.Layar laksana ilusi koneksi. Kita merasa sudah “bertemu” teman hanya dengan menyukai fotonya, sudah merasa “berbicara” cukup dengan mengirim stiker. artinya begitu mudah membangun pertemanan. 


2. Flashback. 

Bila melihat cara interaksi kontak langsung sebelum masa modernisasi sekarang ini sangat jauh berbanding terbalik. Bayangkan saja, untuk berkomunikasi, harus mengeluarkan otot (gerakan tubuh), misalnya berjalan kaki atau berkenderaan.Namun, setiap pertemuan terlihat sangat solid. satu sama lain saling berhadapan, pembicaraanpun bak gayung bersambut. tidak ada yang sibuk dengan diri sendiri. Kesannya pembicaraan itu menjadi “cair” (istilah disini). kalau bahasa sekarang “chemistry”, ya begitulah.


3. Konklusi 

Jadi,dapat kita ambil simpulan, dilhat dari sisi komunikasi dan interaksi pada satu situasi, sudah tentu pola masyarakat tradisonal dalam konteks tatap muka lebih memiliki nilai tersendiri (ethical value). Lebih menghargai satu sama lain dan saling chemistry. Namun bukan berarti pada masyarakat sekarang ini tidak demikian, ada walau hanya pada fase tertentu.Nah sekarang ini, banyak satu meja tapi tidak tegur sapa, saling diam, sibuk dengan gadget masing-masing. Bayangkanlah jika ada salah satu teman tidak menggunakan ataupun memiliki gadget, (dalam hati “nyesal gua gabung”).  


4. Aforisme

Kita akui efek kemudahan komunikasi ternyata sudah merubah midset kita dalam menyikapi sebuah situasi diatas. Alangkah komplitnya dua peradaban ini kita ramu menjadi satu. Dimana kemudahan sebagai sarana, nilai etik sebagai pondasi. Menciptakan kembali kehangatan situasi intraksi tanpa mengurangi teknologi. Sejenak kita break dengan gadget saat bertemu duduk bersama, mnciptakan pembicaraan gayung bersambut, sehingga menciptakan keselarasan, menyatukan koneksi dan chemistry. sehingga tidak terjadi ungkapan  “sendiri bersama-sama”. atau “bersama-sama dalam kesendirian”.

Tinggalkan komentar