Cuaca Extreme

Sedang asyiknya nyantai sambil minum secangkir kopi panas khas lokal, tiba tiba saja handphone berbunyi, notifikasi dari salah satu group whatsapp isinya tentang waspada cuaca extreme Badai Monsun di Samudra Hindia utara yang akan melintasi myanmar dan thailand yang membawa hujan sangat lebat hingga extrem dalam sepekan kedepan (15 – 21 Mei 2026), berpotensi mempengaruhi gelombang tinggi hingga angin kencang di aceh dan Sumatera Utara. Sontak saja langsung meluruskan badan yang tadinya sedikit nyandar kedinding kursi.
Dilihat letak pulau ini di tengah Samudra Hindia, berjarak sekitar 150 km dari lepas pantai barat daratan Provinsi Aceh.
https://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Simeulue
Memang letak dari prediksi Badai Monsun Samudera hindia utara terlihat jauh dari titik pulau ini, tetapi tetap membuat jantung berdebar-debar. Waspada saja, siapa tau bedampak (dalam hati).
Mengingat pulau ini namanya sudah banyak terekspose keluar daratan, apalagi ketika kejadian bencana Tsunami Aceh Tahun 2004. Kan memang disini titik gempa tsunami
itu.https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_dan_tsunami_Samudra_Hindia_2004.
Masyarakat menyebut itu dengan sebutan Smong (air laut naik). Itu dilatar belakangi kejadian pada tahun 1907. Dari kejadian itu dan kejadian-kejadian lainnya, menimbulkan kesiagaan untuk kami pribadi. Seperti saja baru-baru ini terjadi di aceh timur dan sekitarnya hujan deras mengakibatkan bencana banjir. Tak terbayang rasanya musibah terjadi lagi sedemikian rupa. Menghancurkan pemukiman warga, banyak yang kehilangan harta benda bahkan nyawa dari keluarga dan sanak familily mereka. Disini, sebenarnya juga merasakan hujan lembat di bulan November 2025 itu. Langit gelap bercampur angin dan hujan dari pagi sampai malam hingga ke hari berikutnya, sekitar tiga hari yang curah hujannya terasa begitu kuat. Bersyukur karena tidak terjadi banjir besar disini, hanya beberapa desa yang mengalami banjir, tetapi tidak ada korban jiwa seperti di daratan Aceh (Aceh timur dan sekitarnya).
Kami hanya melihat di berita saja. Pasca musibah itu, di kotamadya Banda Aceh mengalami keadaan yang cukup serius, listik padam (hidup bergiliran) kelangkaan BBM, kenaikan beberpa bahan pokok membuat keluarga kami disana merasakan kesusahan. Apalagi cerita BBM langka, “ada tetapi mahal perliternya” kata saudara saya. Kemudian listrik padam ini membuat mereka mesti mencari warung kopi atau tempat lain yang menggunakan mesin genset untuk mencas handphone. Kami disini tidak mengalami hal demikian, listrik lancar, BBM stabil saat itu. Tetapi fokus pikiran tertuju ke sanak family disana walau mereka tidak terkena banjir langsung, tetapi dampak perubahan situasi yang mengkhawatirkan.
Paginya menatap kembali kearah langit yang masih bersisa hujan rintik dengan kondisi mendung, dalam hati seraya berdoa jangan terjadi apapun.Setelahnya, baru mulai terasa sedikit legah, melihat info update berita badai Monsun disamudera hindia utara ternyata hoax.
Namun tidak ada salahnya kita tetap waspada dalam kondisi dan situasi apapun. Karena setiap bencana dan musibah itu sudah ketentuan yang Maha Kuasa, dan kita hanya bisah berpasrah sambil berdoa semoga terhindar dari segala musibah dan bencana…
