Kebakaran Dini Hari, di Simeulue

 

Mata sudah berat, tubuh merayu untuk segera berbaring. Tapi ini Portugal vs Spanyol, laga yang tak bisa dilewatkan begitu saja. Dini hari pun terasa seperti siang, karena semangat dan kopi mengalahkan kantuk. Warung kopi sesak oleh pengunjung, anak-anak kecil yang ikut berteriak, ibu-ibu yang tak kalah heboh, dan bapak-bapak yang setia memegang gelas sambil mata menatap layar.

Dan ketika peluang demi peluang tercipta, sorak-sorai dan hembusan napas bergantian memecah malam. Ada detik-detik di mana semua orang diam, menahan napas, hanya suara bola yang bergulir dan tendangan yang melesat. Lalu, teriakan atau erangan. Tegang. Menegangkan.

Memang memasuki fase babak ini, hati mulai berdebar nggak karuan. Bukan karena siapa yang cetak gol, tapi karena statusnya sudah bukan main-main lagi ini laga “pulang kampung”! Kalah? Wah, siap-siap aja jadi bulan-bulanan di grup WhatsApp. Makanya, setiap serangan lawan bikin dag-dig-dug. Karena di fase ini, yang dipertaruhkan bukan sekadar poin, tapi gengsi!

Di tengah asyiknya menikmati pertandingan, suasana tiba-tiba pecah. Bukan karena gol, tapi karena sirine alarm kebakaran yang melengking nyaring, bercampur aduk dengan sorak-sorai penonton yang masih setia di tempat. Satu per satu mobil pemadam melintas cepat di depan warung kopi, membuat semua orang menoleh. Penonton yang tadinya fokus ke layar mulai saling bertanya, “Ada apa? Di mana?” Ada yang langsung bangkit dan pergi memastikan, ada pula yang memilih bertahan, tetap menatap pertandingan meski hati mulai was-was.

Beberapa hari terakhir, cuaca benar-benar terik menyengat. Seperti kita tahu, musim kemarau selalu membawa risiko tersendiri, api lebih cepat menjalar, dan kelengahan bisa berakibat fatal. Memang, cuaca bukan satu-satunya biang kerok. Ada banyak faktor lain yang bisa memicu kebakaran. Tapi setidaknya, kita bisa memulai dari hal yang paling dekat, meningkatkan kewaspadaan. Karena sijago merah tidak pernah memilih waktu, dan mencegah selalu lebih baik daripada memadamkan.

Kebakaran yang melahap empat unit bangunan di Simpang Lima, sebuah losmen dan tiga rumah di sampingnya membawa saya kembali ke ingatan lama. Dulu, di tempat yang sama, api juga pernah melalap bangunan di hadapan losmen itu. Kejadian berulang ini seperti pengingat keras yang tak bisa diabaikan. Semoga warga tetap waspada dan tak pernah lengah. Karena sijago merah tidak pernah kenal waktu, dan kewaspadaan sejak dini adalah pelindung terbaik yang kita miliki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *