Mengenal Perjalanan Group Band Simeulue
Letak Pulau Simeulue yang jauh di seberang daratan sama sekali tidak menyurutkan semangat para seniman untuk terus berkarya. Khususnya buat para musisi lokal, keterbatasan sarana dan prasarana di masa itu bukan jadi alasan untuk membatasi kecintaan mereka pada dunia musik.
Kalau kita selami lagi, seni tradisional seperti Nandong dan Nanga-nanga sebenarnya sudah cukup menjadi bukti nyata betapa darah seni itu mengalir deras dan tumbuh subur dalam nadi para seniman Simeulue sejak dulu kala.
Ini tentang kisah perjalanan The[A]Team yakni salah satu grup band yang pernah mewarnai belantika musik di Kabupaten Simeulue. Terbentuk sekitar 19 tahun yang lalu, eksistensi band ini tidak cuma sekadar eksis, tapi juga sukses jadi pemantik semangat dan inspirasi bagi band-band lokal lainnya pada masa itu.
Kisah Terbentuk The[A]Team dan Eksistensi
Cerita ini dimulai dari tongkrongan tiga orang personel yang punya visi, misi, dan frekuensi berpikir yang sama (se-ide). Berbekal pengalaman bermusik yang mereka serap dari dalam daerah hingga petualangan ke luar daerah (daratan Aceh), mereka mulai meramu ide-ide kreatif. Dari kebersamaan inilah, lahir sebuah komunitas musik yang solid, sekaligus wadah paling pas buat menyalurkan bakat dan gairah bermusik dari masing-masing personel.
Memanfaatkan Inisial Yang Sama
Mereka memilih nama yang cukup ikonik yaitu The[A]Team. Uniknya, nama ini dipilih karena secara kebetulan seluruh personel awalnya memiliki inisial nama depan yang sama, yaitu huruf “A”. Di awal terbentuknya, band ini sempat memakai nama “Team A”. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya personel hingga genap menjadi enam orang, nama tersebut akhirnya disempurnakan menjadi The[A]Team agar terasa lebih solid dan gagah.

Mengusung Genre Unik
Band ini mengusung genre NuMetal Etnik. Keunikan mereka nggak berhenti di situ, mereka juga menggabungkan racikan musiknya dengan penggunaan soundtrack atmosferik yang menyesuaikan diri secara dinamis. Perpaduan antara ketukan modern yang menghentak, distorsi gitar yang tebal, efek sinematik dari elemen soundtrack, serta selipan instrumen tradisional melahirkan sebuah sajian irama yang sangat segar, unik, dan berkarakter kuat di telinga para pendengarnya.
Lahirnya Karya Monumental: “Radat Dabui”
Sebagai pembuktian kreativitas di awal terbentuknya, The[A]Team langsung melahirkan sebuah karya perdana yang luar biasa berani. Mereka mengangkat cerita tradisi ekstrem lokal yang sangat dihormati, yaitu Debus. Lewat lagu berjudul “Radat Dabui“, mereka berhasil mengawinkan dua dunia yang sangat kontras.
“Radat Dabui” menyajikan lirik dalam bahasa lokal Simeulue dengan cengkok dan gaya nyanyian asli menyerupai bait-bait Radat Debus tradisional pada umumnya. Namun demikian, begitu musik masuk, aransemen cadas berbalut irama NuMetal yang bertenaga akan langsung menyapa telinga kamu.
Eksperimen ini sukses menciptakan harmoni magis yang belum pernah ada sebelumnya di Simeulue. Di satu sisi, lirik radat tradisional memancarkan nuansa sakral, mistis, dan kultural. Di sisi lain, distorsi NuMetal meledakkan energi modern yang membakar semangat.
Lagu “Radat Dabui” ini menjadi bukti autentik bahwa modernitas musik global tidak harus melunturkan nilai tradisi lokal justru sebaliknya, ia bisa menjadi media baru untuk menjaga warisan budaya agar tetap relevan di mata generasi muda.
Penampilan Panggung Lokal dan Lintas Provinsi
Setelah “Radat Dabui” lahir, lagu ini langsung menjelma jadi amunisi utama yang mendominasi berbagai ajang festival musik di level lokal. Penampilan panggung The[A]Team yang eksentrik dengan gempuran musik cadas berbalut mistisme debus selalu sukses menyedot perhatian massa. Panggung demi panggung mereka babat habis, mulai dari parade musik milik komunitas Akbar Studio hingga berbagai event besar ciptaan Pemda setempat.


Geliat musik mereka bahkan gaungnya terdengar sampai luar pulau. Sebagai contoh, dalam salah satu festival lokal yang sangat prestisius di Simeulue, panggung mereka bahkan pernah kedatangan salah satu band undangan dari Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Rivalitas sehat dan kolaborasi antar-daerah itu justru semakin mengukuhkan posisi The[A]Team dalam eksistensi panggung yang patut diperhitungkan.

Invasi ke Ibu Kota: Panggung Banda Aceh
The[A]Team membawa “Radat Dabui” menyeberangi lautan untuk unjuk gigi di luar daerah. Destinasi pertama mereka adalah panggung kebudayaan resmi. Pada tahun 2010, mereka ambil bagian dalam Festival Budaya yang digelar di Taman Budaya Banda Aceh. Di hadapan para penikmat seni se-Aceh, mereka membuktikan bahwa musik modern bisa berjalan beriringan tanpa menanggalkan identitas lokal.

Seiring waktu, lebih kurang sekitar tahun 2011, energi “Radat Dabui” kembali membakar Taman Budaya Banda Aceh. Kali ini suasananya jauh lebih cadas! Mereka tampil dalam festival milik komunitas underground lokal Aceh atau festival karya komunitas underground lokal untuk menyambut kedatangan raksasa metal nasional asal Bandung, Burgerkill. Di hadapan Band-band Aceh pecinta musik ekstrem, The[A]Team tampil di panggung ini dengan cara distorsi mereka tersediri.
Puncak penjelajahan festival luar daerah mereka terjadi pada tahun 2012. Lewat ajang festival bergengsi Aceh, Soundversity live On Stage XII 2012, The[A]Team kembali menghentak panggung dalam rangkaian acara yang turut mendatangkan band rock legendaris tanah air, Pas Band. Berbagi atmosfer dalam rangkaian event nasional seperti itu tentu menjadi catatan emas tersendiri bagi sejarah musik Pulau Simeulue.
Menembus Rekaman (Tracking Studio)
Setelah menempa diri dari satu panggung festival ke panggung lainnya, serta menyaksikan bagaimana eksistensi “Radat Dabui” yang begitu intens, para personel The[A]Team sadar bahwa mereka harus mengabadikan mahakarya ini secara profesional. Momentum demi momentum berharga tersebut akhirnya membawa mereka memantapkan langkah menuju studio rekaman dengan dukungan salah seorang seniman senior simeulue dan donatur saat itu.
Mereka pun memasuki studio untuk melakukan proses tracking lagu “Radat Dabui” ini. Di dalam ruangan kedap suara inilah, setiap ketukan drum, cabikan bass yang berat, sayatan distorsi gitar NuMetal, efek soundtrack sinematik, hingga magisnya lantunan vokal radat lokal disatukan dan dikunci ke dalam pita digital, siap menyebarkan mantra etnik Simeulue ke kancah musik yang lebih luas.
Awal Keretakan dan Upaya Bertahan
Sayangnya, roda kehidupan terus berputar, begitu pula dengan dinamika sebuah band. Cobaan pertama datang ketika sang pemain drum memutuskan untuk berangkat dan menetap di daratan Aceh. Kehilangan fondasi ketukan drum tentu jadi ujian berat di tengah padatnya jadwal mereka. Namun, demi menjaga nyala api eksistensi band, The[A]Team menolak menyerah begitu saja. Mereka melakukan bongkar pasang posisi (rolling) serta merekrut personel baru demi mengisi kekosongan tersebut. Dengan format baru ini, perjalanan mereka tetap berlanjut dan mereka masih terlihat eksis di berbagai ajang lokal.
Namun, badai yang sesungguhnya kembali datang seiring berjalannya waktu. Sang pencabik bass juga memutuskan menyusul langkah untuk pergi ke daratan Aceh. Kepergian sang bassist ini menjadi pukulan yang sangat telak bagi tubuh band. Bagaimana tidak? Dia adalah salah satu dari tiga ‘otak’ awal pembentuk fondasi dan konsep kreatif The[A]Team. Meskipun band ini mencoba keras untuk tetap eksis, perlahan-lahan mereka mulai kehilangan nyawa dan karakter utamanya.
Hilangnya Karakter dan Senjakala Sang Legenda
Kehilangan salah satu konseptor utama membuat eksplorasi soundtrack atmosferik dan aransemen NuMetal Etnik mereka mulai menunjukkan tanda-tanda stagnasi (jalan di tempat). Perlahan tapi pasti, band ini berjalan tanpa arah karakter yang jelas. Penampilan panggung mereka yang dulunya sarat dengan konsep teaterikal kebudayaan yang megah, bergeser menjadi penampilan bebas biasa yang terasa hambar.
Sangat jarang lagi terdengar mantra mistis “Radat Dabui” berkumandang membakar panggung. Demi menjaga penampilan agar tetap diundang ke berbagai acara, mereka mulai membawakan lagu-lagu di luar karya orisinal mereka (cover lagu orang lain). Meski di satu sisi mereka masih mencoba eksis di atas panggung, hilangnya orisinalitas ini membuat para penikmat musik khawatir bahwa lentera band ini akan segera redup. Dan benar saja, kekhawatiran itu akhirnya menjadi kenyataan pahit.
Akhir Kiprah: Tinggal Nama dan Cerita
Kini, The[A]Team resmi menyudahi perjalanannya. Band yang pernah mengguncang panggung dari Simeulue hingga Banda Aceh ini sekarang hanya tinggal nama. Sepak terjang mereka yang gagah kini berubah menjadi dongeng lama di kalangan pencinta musik lokal, dan karya-karya revolusioner mereka pun terpaksa terhenti tanpa ada kelanjutan generasi berikutnya.
Sungguh terasa miris saat menyadari bahwa band dengan potensi sekutur dan seberani ini harus menemui titik sunyi. Namun, bagi Simeulue, jejak distorsi dan lantunan radat yang pernah mereka gaungkan akan selalu tercatat sebagai salah satu era keemasan musik modern-tradisional yang paling berani yang pernah lahir di pulau seberang.
Kesimpulan: Menanti Kebangkitan Estafet Musik Anak Pulau
Kisah perjalanan panjang hingga titik akhir The[A]Team sebenarnya memberikan sebuah refleksi besar bagi kita semua. Perjalanan mereka membuktikan satu hal mutlak, Pulau Simeulue mempunyai talenta-talenta luar biasa yang kualitasnya sama persis dengan musisi di daratan utama. Pulau ini tidak hanya kaya akan keindahan alamnya yang memukau, tetapi juga sangat kaya akan bakat-bakat seni terpendam yang siap meledak kapan saja.
Jauh sebelum era The[A]Team terbentuk, tangan-tangan dingin para musisi senior terdahulu sebenarnya sudah mengukir sejarah musik di Simeulue dengan indah. Merekalah yang babat alas, membangun fondasi kokoh, dan menjadi ‘deking’ (pelindung serta penyokong) bagi pergerakan band generasi setelahnya. Pertanyaannya sekarang, akankah nama harum dan kejayaan musik Simeulue di masa lalu itu bisa kembali bersemi dan mewarnai masa kini?
Kita tidak bisa menutup mata bahwa tantangan hari ini jauh lebih berat. Gempuran era digital perlahan-lahan mulai mengikis minat bermusik anak-anak pulau. Banyak yang kini lebih memilih layar gawai ketimbang memegang instrumen musik fisik. Oleh karena itu, kita tentu tidak ingin dunia musik hanya menjadi wadah musiman. Generasi muda Simeulue hari ini punya tanggung jawab besar untuk melanjutkan estafet perjuangan yang sudah dipertunjukkan dengan gagah oleh The[A]Team dan para musisi band terdahulu.
Harapan besar kita, semoga wadah kreatif berupa band-band lokal di Simeulue bisa kembali bersinar dan bergairah. Namun, impian ini jelas tidak bisa berjalan sendirian. Dukungan penuh dari semua stakeholder, mulai dari pemerintah daerah, komunitas, pegiat seni, hingga masyarakat luas, sangat-sangat dinanti saat sekarang ini. Kolektivitas dan kepedulian dari semua pihak adalah bahan bakar utama yang kita butuhkan untuk membakar kembali semangat, membangunkan bakat yang tertidur, dan menghidupkan kembali panggung musik di Pulau Simeulue!

