Riak Kenangan di Jantung Simeulue: Kisah Teluk Sinabang yang Menjaga Kenangan Masa Kecil

Bagi siapapun yang pernah tumbuh besar di pelukannya, Teluk Sinabang bukan sekadar hamparan air laut yang menjorok ke daratan. Bagi saya, teluk ini adalah rumah, arena bermain, sekaligus saksi bisu tumbuh dan berkembang. Lahir dan dibesarkan tepat di pinggiran teluk, persis di sebelah pelabuhan kargo lama yang akrab kami sebut “Panther” atau pantai terapung dalam bahasa lokal, menjadikan aroma garam dan suara deburan air sebagai bagian dari DNA kami.

​Teluk ini memiliki ikatan magis dengan masyarakatnya. Ketika bencana mahadahsyat Smong (tsunami) melanda pada dekade lalu, Teluk Sinabang hadir layaknya tameng pelindung pemecah ombak. Saat wilayah lain luluh lantak dihantam gelombang tinggi, air laut di depan rumah kami justru naik dengan begitu tenang, tanpa ombak yang ganas, tanpa arus yang mematikan. Ia hanya menyapa rumah kami layaknya air pasang biasa. Teluk ini memecahkan ombak dari luar, sehingga riak tenang yang masuk ke dalam teluk.

Foto: Pintu Babang, Teluk Sinabang

​Surga Masa Kecil di Tepian Pelabuhan

​Pada masa kecil saya, laut adalah halaman bermain. Jarak antara rumah dan air laut begitu dekat, cukup melangkah beberapa depa dan langsung terjun untuk mandi pagi dan sore. Kehidupan kami berputar di seputaran Simpang Lima Kota Sinabang, pusat nadi yang selalu padat dan berdenyut setiap harinya.

​Memasuki era 90-an, Simpang Lima adalah magnet utama. Di sinilah pelabuhan kapal feri berada. Bagi saya, terompet kapal feri yang merapat di pagi hari sudah seperti alarm alami. Begitu suaranya menggema, kaki-kaki kecil kami akan langsung berlarian menuju tepian laut, menyusuri pagar beton pelindung yang tertata panjang di pinggir teluk.

​Atmosfer ketika feri masuk selalu luar biasa. Riuh rendah suara klakson, deretan becak penumpang yang bersiap mencari muatan, hingga becak logging yang berjejer rapi di depan gerbang pelabuhan menjadi pemandangan sehari-hari.

Kemeriahan itu terulang kembali saat sore hari ketika kapal bersiap angkat sauh. Laut seolah menjadi sahabat karib bagi kami anak-anak pesisir, kami terbiasa berenang dan mandi di bawah serta pinggiran kapal, sambil melambaikan tangan melihat para pelancong yang pulang atau warga yang pergi merantau. Masa kecil yang sungguh seru dan tak tergantikan.

Foto: Aktifitas di Teluk Sinabang

​Pusat Ekonomi dan Keramahan yang Hangat

​Tidak jauh dari sana, berdiri juga Pelabuhan Kargo pada masa itu. Konstruksinya yang terbuat dari kayu kokoh dengan bangunan gudang semen di tengah lokasi pelabuhan memberikan pemandangan yang estetik dan rapi pada masanya.

Pelabuhan ini menjadi saksi kejayaan ekonomi Simeulue, di mana kapal-kapal dari daratan seperti Padang, Sibolga, dan daratan Aceh berdatangan membawa semen dan barang pokok. Sebaliknya, kapal-kapal itu akan pulang membawa kekayaan bumi Simeulue, hasil cengkeh yang melimpah hingga ternak kerbau yang diekspor ke luar pulau.

Bahkan seingat saya, sesekali kapal pesiar berukuran mini pun pernah merapat. Karena setiap kali ada kapal baru atau kapal asing yang datang, masyarakat akan berkumpul beramai-ramai menyambutnya dengan antusias. Itulah potret asli keramahan warga Simeulue terhadap pendatang.

​Melengkapi ekosistem bahari di Simpang Lima, terdapat pula pelabuhan boat dan perahu lokal. Di sinilah tempat bersandarnya boat-boat dari Simeulue Barat, Teluk Dalam, Teupah Selatan, hingga dari luar daerah. Menumpuknya seluruh armada laut di satu titik ini menjadikan Kota Sinabang sebagai ibu kota yang sangat padat, dan menjanjikan perputaran ekonomi yang luar biasa bagi warganya.

​Pulau Balok dan Asa yang Tertunda

​Jika memandang ke tengah teluk, pandangan kita pasti akan tertuju pada sebuah pulau kecil yang sunyi bernama Pulau Balok. Pada masa pemerintahan bupati-bupati awal dahulu, sempat terdengar ada rencana besar untuk membangun sebuah tugu di pulau tersebut. Kami, masyarakat yang tinggal di seputaran Simpang Lima, tentu menyambut rencana itu dengan penuh suka cita dan harapan.

​Namun waktu berlalu, dan hingga hari ini, Pulau Balok masih berdiri sama seperti dulu, sunyi di tengah teluk, belum tersentuh perubahan atau bangunan yang pernah diimpikan.

Foto: Pulau Balok,Teluk Sinabang

​Penutup: Wajah Baru Teluk Sinabang

​Kini, waktu telah mengubah segalanya. Seiring dengan perluasan kota, Teluk Sinabang memang tetap berfungsi sebagai jalur lalu lintas transportasi laut yang lancar. Namun, lanskap ruangnya telah berubah total. Modernisasi dan kemudahan akses darat yang dahulu belum tersentuh pembangunan jalan, kini telah memecah titik keramaian.

​Pelabuhan Feri kini telah berpindah ke Kolok, Pelabuhan Kargo bergeser ke area Pertamina, dan pelabuhan boat pun sudah tersebar di lokasi baru. Simpang Lima tidak lagi seramai dan sepadat dulu oleh aktivitas pelabuhan. Meskipun tempatnya telah berubah dan menyebar demi kemajuan zaman, memori tentang riuhnya terompet feri pagi hari, kokohnya kayu pelabuhan “Panther”, dan kehangatan Teluk Sinabang di era 90-an akan selalu abadi tersimpan di hati kami yang pernah tumbuh di tepiannya.

Tinggalkan komentar

Verified by MonsterInsights