Celepuk Simalur. Burung Hantu Endemik di Hutan Simeulue
Mengingat kembali penemuan yang sangat penting dalam dunia ilmu pengetahuan, yaitu seekor burung hantu kecil. Peneliti tidak menemukannya di tempat lain, selain di Pulau Simeulue. Nama burung itu adalah Celepuk Simalur. Bagaimana burung ini pertama kali ditemukan? Siapa yang membawanya ke pengetahuan dunia? Dan mengapa ia hanya ada di Simeulue? Ini ceritanya.
Daftar Isi
Dari Ekspedisi ke Simeulue hingga Nama Ilmiah
Merujuk kepada catatan sejarah, dimana Dokumen resmi dari Smithsonian Institution mencatat bahwa Abbott berlayar dari Singapura pada akhir Oktober 1901. Tujuannya adalah mengunjungi pulau-pulau di pantai barat Sumatera yang secara zoologis belum pernah dijelajahi.
Singkat cerita, pada pertengahan November 1901, Abbott tiba di Pulau Simeulue. Di sanalah ia menghabiskan waktu beberapa minggu, bergerak dari satu titik ke titik lain di sepanjang pantai pulau.
- Telok Dalam (17 November – 1 Desember 1901)
- Teluk Sibuboh (8 – 17 Desember 1901)
- Sungai Sigoeli (19 Desember 1901)
- Pulo Asu (25-26 Desember 1901)
- Pulo Siumat (27 – 30 Desember 1901)
- Teluk Labuan Badjau (1 – 3 Januari 1902)
Selama perjalanan ini, ia mengumpulkan sekitar 450 spesimen burung. Setelah itu, Abbott melanjutkan pelayaran ke pulau-pulau lain seperti Banjak Islands dan Tapanuli Bay, sebelum akhirnya kembali ke Singapura.
Spesimen yang dikumpulkan Abbott di Simeulue dikirim ke United States National Museum di Washington, D.C. Di sanalah Charles Wallace Richmond, seorang kurator burung di museum tersebut, menerima koleksi ini pada bulan Juli 1902.
Bagaimana Celepuk Simalur Mendapatkan Namanya
Charles Wallace Richmond, seorang ahli burung di United States National Museum di Washington, D.C., adalah orang yang pertama kali mendeskripsikan dan memberi nama ilmiah untuk burung ini pada tahun 1903.
Ketika pertama kali dideskripsikan, Richmond menempatkan burung ini dalam genus Pisorhina dan memberinya nama spesies umbra. Dengan demikian, nama lengkapnya saat itu adalah Pisorhina umbra.
Nama umbra dalam bahasa Latin berarti “bayangan” atau “hantu”. Nama ini sangat cocok karena burung hantu adalah makhluk malam yang aktif di kegelapan, sering kali hanya terlihat sebagai bayangan di antara ranting-ranting pohon.
Seiring perkembangan ilmu taksonomi, para ahli kemudian menempatkan burung ini ke dalam genus Otus, yang merupakan genus bagi burung-burung celepuk (scops owl) pada umumnya. Nama ilmiahnya pun berubah menjadi Otus umbra, dengan tetap mempertahankan nama spesies umbra yang diberikan Richmond.
Nama dalam bahasa Indonesia ini muncul belakangan. Karena burung ini hanya ditemukan di Pulau Simeulue, para ahli dan pegiat konservasi, serta masyarakat, mulai menyebutnya dengan nama yang merujuk pada habitatnya.
Dalam bahasa Indonesia, “Celepuk” adalah sebutan untuk jenis burung hantu kecil ini, dan “Simalur” adalah nama pulau tempat ia tinggal. Seiring waktu, sebutan “Celepuk Simalur” pun menjadi nama yang diakui dan digunakan secara luas hingga sekarang. Ini adalah bukti bagaimana sebuah nama bisa lahir dari kebutuhan untuk mengenali dan melestarikan keunikan alam kita.
Mengenal Celepuk Simalur, Si Mungil Bermata Kuning
Setelah kita membahas asal-usul nama dan sejarah penemuannya, sekarang saatnya lebih dekat dengan burung mungil ini. Celepuk Simalur mungkin tidak sebesar burung hantu pada umumnya, tapi ia punya ciri-ciri fisik dan perilaku yang membuatnya unik. Apa keunikannya? Berikut kita uraikan :
Ukuran Tubuh yang Mungil
Celepuk Simalur ini adalah burung hantu yang sangat kecil. Panjang tubuhnya hanya sekitar 16 hingga 18 sentimeter. Bayangkan, ukurannya hampir sama dengan penggaris yang biasa kita pakai di sekolah!
Beratnya pun ringan, berkisar antara 90 hingga 100 gram. Ukuran yang mungil ini membuatnya lincah dan mudah bersembunyi di antara dedaunan.
Penampilan Sederhana Tapi Mempesona
Jika diamati, penampilan Celepuk Simalur terlihat sangat mempesona. Ada beberapa detail yang membuatnya istimewa itu, yakni :
1. Warna Bulu yang Seragam
Bulunya didominasi warna cokelat kemerahan yang hampir merata di seluruh tubuh. Warna ini membantunya berkamuflase dengan baik di antara kulit pohon dan ranting kering. Dan di bagian bawah, ada sedikit coretan putih dan garis-garis gelap yang samar.
2. Jumbai Telinga yang Hampir Tak Terlihat
Salah satu ciri khas burung hantu pada umumnya adalah jumbai di atas kepala yang menyerupai telinga.
Tapi Celepuk Simalur punya jumbai yang sangat pendek dan tidak mencolok, bahkan seringkali terlihat rata dengan kepala. Inilah yang membuat kepalanya terlihat lebih bulat.
3. Mata Kuning yang Menyala
Ini mungkin ciri yang paling mudah dikenali. Matanya berwarna kuning cerah, seperti dua butir amber yang menyala di tengah malam. Tatapannya tajam, tapi justru menjadi daya tarik tersendiri.
4. Paruh dan Kaki
Pada paruhnya, berwarna abu-abu. Kakinya berbulu hampir sampai ke pangkal jari, dengan cakar berwarna seperti tanduk dan ujung yang lebih gelap.
Suara Khas di Malam Hari
Sebagai burung nokturnal, suara adalah cara utama Celepuk Simalur berkomunikasi. Ia memiliki panggilan yang sangat khas dan berbeda dari burung hantu lainnya.
Berikut uraian singkatnya :
1. Cegukan :
Suaranya dideskripsikan sebagai serangkaian nada pendek seperti “cegukan” (hiccupy piping notes). Terkadang, suara ini juga diibaratkan seperti panggilan burung takur (barbet), salah satu jenis burung pemakan buah.
2. Variasi Suara Lain :
Selain “lagu” utamanya, ia juga mengeluarkan serangkaian jeritan pendek (short squeals). Kedua jenis suara ini, “lagu” dan jeritan, terkadang digabungkan menjadi satu rangkaian panggilan.
3. Fungsi Suara :
Panggilan-panggilan ini bukanlah tanpa arti. Bagi Celepuk Simalur, suara adalah alat komunikasi vital, terutama untuk menandai wilayah kekuasaan dan menarik pasangan, terutama saat musim kawin tiba. Ada juga catatan bahwa sepasang burung dapat saling bersahutan seakan menciptakan sebuah “duet” yang memecah kesunyian hutan.
Habitat dan Persebaran
Celepuk Simalur benar-benar istimewa, ia adalah burung endemik dan Ia mendiami berbagai habitat berhutan, mulai dari hutan yang masih alami hingga perkebunan cengkeh dipulau Simeulue.
Meskipun ada kerabat dekatnya, Celepuk Asia (Otus sunia), yang juga bisa dijumpai di pulau yang sama sebagai burung migran, Celepuk Simalur tetaplah “tuan rumah” yang tinggal menetap di Simeulue.
Status dan Populasi Terkini
Berdasarkan data dari lembaga konservasi dunia, Celepuk Simalur masih ada hingga sekarang. Beberapa data dari sumber terpercaya yang menunjukkan bahwa Celepuk Simalur masih hidup hingga saat ini dan populasinya terbilang stabil. Berikut yang dapat kita lihat sebagai rujukan.
Status Konservasi Terbaru :
Berdasarkan penilaian terbaru untuk Daftar Merah IUCN 2023, statusnya direkomendasikan sebagai “Risiko Rendah” (Least Concern). Ini didasarkan pada bukti bahwa tidak ada indikasi penurunan populasi yang signifikan, baik dari perburuan maupun hilangnya habitat. Sebelumnya, beberapa sumber sempat mencatat status “Hampir Terancam” (Near Threatened), tetapi data terbaru menunjukkan populasinya masih aman.
Kondisi Populasi di Lapangan :
Berdasarkan kunjungan lapangan ke Pulau Simeulue pada tahun 2021, spesies ini dilaporkan masih mudah ditemukan di habitatnya dan tidak ada indikasi perburuan terhadap burung ini.
Data dari eBird :
Platform pengamatan burung global eBird secara rutin mencatat laporan pengamatan spesies ini. Ini membuktikan bahwa Celepuk Simalur masih terlihat dan diidentifikasi oleh para pengamat burung hingga saat ini.
Stabilitas Habitat :
Hutan di Pulau Simeulue memang menjadi perhatian serius bagi berbagai spesies endemik. Namun, untuk Celepuk Simalur sendiri, data menunjukkan bahwa tingkat deforestasi di wilayah jelajahnya sangat kecil (kurang dari 3% dalam 10 tahun). Selain itu, burung ini memiliki toleransi yang baik terhadap habitat yang terganggu dan sering ditemukan di perkebunan, sehingga populasinya diperkirakan tetap stabil.
Singkatnya, meskipun persebarannya hanya terbatas di satu pulau, Celepuk Simalur dilaporkan masih bertahan dan berada dalam kondisi yang relatif aman saat ini.
KesimpulanÂ
Celepuk Simalur (Otus umbra) adalah burung hantu kecil endemik yang hanya bisa ditemukan di satu tempat di dunia, Pulau Simeulue, Aceh. Keberadaannya yang terbatas sehingga menjadikannya salah satu kekayaan hayati Indonesia yang sangat istimewa sekaligus rentan. Ia adalah “tuan rumah” malam hari di pulau ini, menjadi satu-satunya burung hantu yang menetap di sana.
Kisah Celepuk Simalur tidak lepas dari dua sosok penting di balik layar yakni Dr. William Louis Abbott, sang penjelajah yang benar-benar mengarungi lautan dan mengumpulkan spesimen di Pulau Simeulue pada tahun 1901.
Charles Wallace Richmond, sang ilmuwan yang kemudian mendeskripsikan dan memberi nama ilmiah Pisorhina umbra (kini Otus umbra) pada tahun 1903.
Nama “Celepuk Simalur” sendiri lahir belakangan, sebagai hasil kesepakatan komunitas pengamat burung di Indonesia, bukan pemberian Richmond. Nama ini merujuk pada habitatnya “Celepuk” untuk jenis burung hantu kecil, dan “Simalur” untuk pulau tempatnya tinggal.
Dengan panjang tubuh hanya 16-18 cm dan mata kuning cerah, Celepuk Simalur memiliki penampilan sederhana namun memikat. Bulunya yang cokelat kemerahan membantunya berkamuflase di siang hari. Dan malam hari ia aktif dengan suara yang khas menjadi ciri yang paling mudah dikenali di tengah gelapnya hutan Simeulue.
Meskipun penyebarannya hanya terbatas di satu pulau, Celepuk Simalur masih ada dan populasinya tergolong stabil. Kemampuan beradaptasi di perkebunan membuatnya tetap bertahan meskipun ada tekanan terhadap habitatnya.
Kisah Celepuk Simalur mengajarkan kita bahwa kekayaan alam Indonesia tidak selalu berupa hewan-hewan besar yang populer. Kadang ia berupa burung mungil di ujung pulau, yang tidak banyak dikenal tetapi memiliki peran penting dalam ekosistemnya. Penemuan dan pengenalannya ke dunia adalah hasil kerja panjang para penjelajah dan ilmuwan dari masa ke masa.
Dan yang terpenting keberadaannya hingga kini merupakan kabar baik. Tapi itu bukan alasan untuk lengah. Celepuk Simalur tetap membutuhkan perhatian, karena nasibnya sepenuhnya bergantung pada kelestarian satu pulau yang menjadi satu-satunya rumahnya.
Referensi:

